Minahasa, jeberita.com, 11 Desember 2025.
Di tengah dunia yang kerap menakar bahagia dari gemerlap dan sorot kamera,
Ibu Anik Yulius Selvanus memilih jalan sunyiyang justru paling lantang berbicara.
Usia ke-56 ia sambut bukan dengan pesta,melainkan dengan kehadiran.
Bukan dengan kemewahan, tetapi dengan kasih yang disentuhkan. Hari istimewa itu berlabuh di Panti Asuhan Cinta Kasih
dan Panti Lansia Elsadai, Remboken.
Di sanalah tawa anak-anak dan senyum para lansia menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi makna perayaan.
Tak ada jarak di ruang sederhana itu.
Hanya doa, genggaman tangan, dan kalimat pengharapan yang tulus:
“Andalkan Tuhan, masa depan kalian pasti ada.” Sebuah pesan singkat,
namun cukup untuk menumbuhkan keyakinan bahwa harapan selalu menemukan jalannya.
Gubernur Yulius Selvanus hadir,
bukan sekadar mendampingi,
tetapi menyaksikan, bahwa kepemimpinan sejati bermula dari empati.
YSK menyebut momen ini menyentuh dimensi kemanusiaan, sebuah pengakuan bahwa pelayanan publik yang bermakna
lahir dari keberpihakan pada yang rapuh.
Foto-foto penuh tawa, bingkisan sederhana, dan obrolan hangat
bukanlah penutup acara, melainkan penanda ikatan yang telah terajut.
Di sana, kebahagiaan tak dikumpulkan,
melainkan dibagikan, dan justru bertumbuh. Perayaan ini lebih dari sekadar ulang tahun. Ia adalah cermin,
sebuah ajakan bagi kita semua
untuk menimbang ulang arti sukses dan bahagia.
Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang bukanlah apa yang kita miliki,
melainkan kebaikan yang kita tinggalkan di hati sesama.
Di usia ke-56, Ibu Anik memilih memberi teladan: “bahwa kesederhanaan yang tulus adalah kemewahan tertinggi,
dan solidaritas adalah warisan paling abadi”.. (Red)





























