Manado, jeberita.com, Sabtu, 20 Desember 2025.
Hembusan harapan itu akhirnya datang.
Dari Graha Gubernuran Bumi Beringin, Sabtu (20/12/2025), sebuah angka diumumkan bukan sekadar nominal, melainkan simbol harapan baru bagi para pekerja di Tanah Nyiur Melambai.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dengan suara mantap menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulut 2026 sebesar Rp4.002.630.
Angka itu menembus batas psikologis empat juta rupiah sebuah lompatan yang lama dinanti, lama diperjuangkan.
“Ini bukan angka yang lahir dari ruang kosong,” ujar Gubernur Yulius.
Ini adalah hasil dari kalkulasi matang: inflasi yang dikendalikan, pertumbuhan ekonomi daerah yang terus bergerak, serta kemampuan dunia usaha yang dijaga agar tetap bernapas.
Muara akhirnya jadi satu: kehidupan pekerja yang lebih layak dan bermartabat.
Kebijakan ini berdiri di atas keseimbangan.
Hak pekerja diperkuat, tanpa mematikan denyut dunia usaha.
UMKM, industri padat karya, dan investor tetap diberi ruang tumbuh, sementara keadilan sosial ditegakkan dengan pijakan yang rasional.
Namun penetapan ini bukan sekadar seremoni.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menegaskan komitmen pengawasan yang tegas dan konsisten.
Aturan bukan sekadar teks, akan hadir di lapangan, memastikan setiap pekerja menerima haknya secara utuh.
Bagi Gubernur Yulius, kesejahteraan bukan tujuan akhir, melainkan fondasi.
Saat pekerja sejahtera, produktivitas meningkat.
Saat produktivitas tumbuh, ekonomi daerah menguat. Dan dari siklus itulah Sulawesi Utara dibangun kokoh, berkelanjutan, dan inklusif.
Tembusnya angka Rp4 juta menjadi penanda zaman.
Sulawesi Utara menegaskan posisinya sebagai provinsi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga merawat manusianya.
Pembangunan yang berkeadilan kini bukan sekadar jargon, melainkan kebijakan nyata.
Menjelang akhir 2025, keputusan ini hadir sebagai kado penuh makna.
Harapan baru menyala di rumah-rumah pekerja.
Tantangan ke depan jelas: mengubah angka di atas kertas menjadi daya beli yang terasa, kehidupan yang lebih sejahtera, dan ekonomi Sulut yang bergerak maju untuk semua.
Di Tanah Nyiur Melambai, empat juta rupiah kini bukan lagi mimpi telah menjadi pijakan menuju masa depan.. (Oby)





























